Tampilkan postingan dengan label Cerita Dadang Arie Minandar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Dadang Arie Minandar. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Agustus 2012

TANPA KATA

Assalamualaikum :D

Ini klik PUISI Dadang Arie Minandar, soalnya disana ada puisi yang ane bacakan :)

mungkin kurang maksimal soalnya baru pertama kali merekam suara lalu kasih efek musik :)




semoga terhibur dengan puisi yang saya bacakan  

Senin, 13 Agustus 2012

Not Action Talk Only

Khilafah dan Syariah: Not Action Talk Only!

Sering banget ketika kita mempromosikan Khilafah dan Syariah lantas ada beberapa orang sirik dan panas kupingnya lalu bilang “Mas, jangan NATO dong, Not Action Talk Only” katanya “Ngomong doang, apa aksi nyatanya?!”

Maka ada beberapa yang harus diluruskan:

1. Seinget saya, dulu guru Bahasa Indonesia ngajarin kalo “Ngomong” itu adalah aktivitas, termasuk kata kerja kayaknya deh, jadi talks = action, bahasa arabnya FI’IL (baru belajar kemaren) heheh…

2. Namanya dakwah itu ya ngomong, asal katanya aja da’a-yad’uu-dakwatan artinya menyeru, berarti ya ngomong, bukan gebukin orang hehehe…

3. Dalam beberapa hal, kita memang cuma bisa ngomong, karena Rasul pun mencontohkan begitu. Misal, ketika Rasul menjelaskan surga dan neraka, apa Rasul bawa mereka tour atau studi banding ke surga dan neraka? ya nggak lah.. Rasul Muhammad saw cuma ngomong kan.. apa itu berarti Rasul cuma NATO? ya nggak lah..

4. Dalam banyak hal, kadang2 kita cuma bisa membatasi aktivitas pada ngomong, jadi nggak boleh aktivitas. Misal: menasehati orang judi nggak boleh kita aktivitas ikut judi. Menasehati orang supaya jadi Islam berarti jangan ikut2an aktivitas murtadnya. Menasehati orang ikut2an sistem demokrasi juga gak boleh sampe ikut2an maksiat demokrasi.

betul atau bener? Jadi kalo nggak ikut sistem kufur dibilang NATO, mendingan gitu aja deh.. daripada ikutan maksiat. najis.

5. Terakhir sy cuma mau kasitau bahwa pendakwah memang banyak ngomongnya. Kalo dikit ngomongnya banyak gerak, itu orang2 pacaran (wkwkwk… poin terakhir diabaikan aja, bukan dalil, guyonan only)

CINTA MANUSIA DAN PENCIPTA




Hai kembali lagi di blog saya malaikat bermata biru, teman teman saya sering memanggil malaikat bermata somplak :D, mungkin mereka iri kali yah ( hahahahhaa )

Nah kali ini saya akan membicarakan tentang CINTA. Di Zaman yang sebentar lagi kiamat ini Cinta itu disalah artikan sebagai cinta kepada lawan jenis bahkan sampai ada yang cinta sesama jenis ( ya ampun kayak gak ada lawan jenis aja di dunia ini ) .Saya akan memberikan pencerahan tentang cinta.Menurut para ahli dan kebanyakan orang cinta itu bermacam macam bentuk, rasa, dan keindahannya. Namun saya memberikan definisi lain yang saya dapatkan di MARIO TEGUH. 

MANUSIA - MANUSIA
Cinta itu menurut saya adalah ketika kita suka kepada dia dan dia suka kepada kita. Dikatakan dengan buku lain bahwa ketika kita sayang kepada dia dan dia pun sayang kepada kita. Lalu cinta itu bukan hanya cinta kepada pacar, tetapi cinta itu merangkap semuanya dan kita cinta kepada ayah, ibu , bahkan keluarga sudah termasuk cinta. bukan kita cinta kita ditolak sama pacar lalu mau bunuh diri -_-. Kalo mau bunuh diri ntar telpon aku lalu aku rekam nanti kusebarkan di youtube, kan jadi banyak orang yang liat ( hahahahha )



MANUSIA DAN PENCIPTA

Cinta itu menurut saya adalah ketika cinta kepada sang pencipta dan pencipta pun sayang kepada kita. malahan sang pencipta menyayangi dan mengasihi kita melebihi apa yang kita bayangkan.

Yakinlah bahwa pencipta kita mencintai kita lebih dari yang kita bayangkan dan DIA tak pernah lepas mengawasi kita dari segala sudut arah.




Pesan saya : Cintailah orang yang mencintai mu dan jangan mencintai orang yang tidak mencintai mu :D
karena orang yang mencintai mu sudah pasti rela berkorban demi kamu. :D










Selasa, 31 Juli 2012

Orang Kota , Orang Desa, dan Orangutan


Ada 3 Jenis Orang : Yang Pertama, orang kota. Ya kita-kita para turis, pelancong, maupun petualang yang tinggal jauh dari TNTP. Kedua, orang desa. Saya tidak bermaksud untuk menggolongkan yang jelek loh ya. Tapi guide tim kami, Joe Bowo, yang mengategorikan dirinya sendiri (dan teman-temannya) yang tinggal tidak jauh dari sana sebagai orang desa.
Terakhir, Orangutan. Orang yang tinggal di hutan. Ya, tidak salah sih. Tapi merasa sebal tidak dijawab begitu? Well, sebenarnya, Orangutan tidak salah diberi nama 'orang' karena mereka saudara terdekat kita, manusia. DNA kita mirip, tak kurang dari 96%! Scientific sekali nih biar percaya.
Tapi, selain dari yang berbau angka dan perhitungan khusus, sebenarnya, banyak kok ciri manusia dan orangutan yang yang terlihat jelas kemiripannya. Mereka memiliki mata yang menghadap lurus ke depan, telinga yang kecil, juga deretan gigi yang serupa dengan manusia. Setelah persamaan, kita cek hal-hal unik yang dimiliki orangutan. Ciri paling khas adalah bantalan pipi yang dimiliki si jantan. Belum diketahui secara pasti apa fungsi bantalan ini. Beberapa asumsi: sebagai perlindungan saat berkelahi, untuk mengeluarkan long call ala orangutan dan tanda kedewasaan.
Hal unik kedua, rambut orangutan yang merah kecokelat-cokelatan membuat kita mudah mengenalinya. Rambut ini tumbuh di seluruh bagian tubuhnya. Ada lagi ya membuat orangutan berbeda. Tangan mereka lebih panjang daripada kakinya. Dan bentuk kakinya sangat mirip dengan tangannya. Ini merupakan adaptasi dari kebiasaan mereka memanjat pohon, termasuk juga pinggul mereka yang sangat fleksibel.
 
Keberadaan orangutan, tidak hanya sekadar meramaikan hutan. Orangutan memiliki peran penting di sana. Mereka adalah penyebar biji-bijian, pemakan buah-buahan yang telah matang yang bijinya yang pada akhirnya akan mereka keluarkan melalui feses. Feses yang berbiji-bijian ini berfungsi sebagai pupuk kompos yang membantu pertumbuhan biji-bijian tersebut.
Berbicara mengenai orangutan, tidak akan ada habisnya. Menurut saya, setelah bertemu langsung dari mereka, perasaan kita sangat berbeda dengan sebelumnya. Rasanya kita sedih mengingat mereka, "sepupu" kita, tidak bisa hidup dengan baik. Sedih sekali membaca berita dan mendengar cerita bahwa mereka diburu untuk dibunuh. Beruntung orangutan yang ada di tempat-tempat konservasi. Semoga makin banyak yang peduli terhadap orangutan. Setidaknya, hargai mereka dengan mengingat bahwa mereka, saudara kita, "sepupu" kita!

http://dewimarlaina.blogspot.com/2012/04/orang-kotaorang-desa-dan-orang-utan.html


cerita OrangUtan



      Sekelompok Orang Utan hidup bahagia di pedalaman hutan tropis Kalimantan. Dikelompok Orang Utan itu ada tiga Orang Utan remaja bernama Ut-Ut, Tan-Tan,dan Oetan yang bersahabat sejak mereka bayi. Mereka gemar bercengkerama dan bergelayutan dari pohon ke pohon.

Sesekali mereka saling bertengkar namun kembali berbaikan,tidak sampai merusak persahabatan mereka. Pada suatu pagi yang berembun, kawanan Orang Utan itu terkejut merasakan guncangan dan mendengar suara geraman yang begitu besar di sekitar tempat tinggal mereka.

“Kraakk,Kraaakk,bummm..”, suara keras makin mendekatke tempattinggal mereka.

Pohon-pohon yang biasa mereka gelayuti satu persatu rebah ke tanah oleh mahkluk yang mengeluarkan geraman.

Awalnya kawanan Orang Utan itu terkesima,dan cuma menatapi pohon-pohon yang rebah itu. Namun setelah tersadar,pemimpin kawanan Orang Utan akhirnya berangkat menjauhi tempat tersebut dan mulai diikuti sebagian kawanannya.

Oetan ternyata tak mau mengikuti pemimpinnya meninggalkan tempat tersebut. Oetan tak mau tinggal diam melihat tempat tinggalnya dirusak mahkluk lain. Ia berteriak-teriak marah,melempari mahkluk-mahkluk yang berjalan dengan dua kaki dari atas pohon . Awalnya makluk yang berjalan dengan dua kaki itu sedikit panik melihat keberanian Oetan. Namun saat Oetan sedang melempar mahkluk-mahkluk tersebut dengan ranting, tiba-tiba terdengar suara keras membahana..

“Duarrr….”

Seketika Oetan roboh dan jatuh dari pohon. Oetan tergeletak kaku!!



Tidak jauh darisana,Tan-Tan dan Ut-Ut melihat peristiwa Oetan tertembak . Mereka sangat sedih melihat sahabat yang mereka sayangi telah mati.

“Oetan..oetan..sahabatku,huhuhu…kenapa kau mati secepat ini”, ratap Tan-Tan

“Ayo Tan, mari cepat-cepat kita tinggalkan tempat ini..mahkluk-mahkluk itu terlalu berbahaya buat kita”, ajak Ut-Ut kepada Tan-Tan.

“Aku gak mau! Aku masih mau melihat sahabatku Oetan”, jawab Tan-Tan kepada Ut-Ut.

“Nanti kita bisa kembali lagi kesini,setelah mahkluk-mahkluk itu pergi.Sekarang kita pergi dulu dari sini , kita ikuti si Amang pemimpin kita ke atas bukit sana”, ajak Ut-Ut kepada Tan-Tan.

“Kamu saja pergi duluan Ut, aku masih mau disini”

“Kalau begitu aku pergi ke atas bukit duluan! Tan-Tan hati-hati ya dengan mereka! Aku tunggu kamu nanti diatas…”

Akhirnya si Ut-Ut bergegas meninggalkan si Tan-Tan dari tempat itu.

Tan-Tan yang masih bersedih terus menatapi si Oetan . Namun tanpa disadari Tan-Tan,tiba-tiba pohon tempat Tan-Tan berpijak roboh seketika ke tanah. Tan-Tan tidak sadarkan diri setelah itu. Yang Tan-Tan tahu kini dia ada ditempat berjeruji yang sangat sempit.



Dia hanya termenung saja di tempat itu. Dia tidak bisa bergelayutan kemana-mana lagi ditempat itu. Sesekali mahkluk-mahkluk yang telah membunuh sahabatnya Oetan memberi dia makanan yang dia tidak sukai.

Sementara diatas bukit sana si Ut-Ut dan kelompoknya lama menanti kedatangan si Tan-Tan. Namun hari demi hari si Tan-Tan tak kunjung datang. Ut-Ut dan kawanannya sendiri tak berani lagi kembali ke tempat tinggal mereka yang lama, karena mahkluk-mahkluk perusak dan pembunuh itu tidak kunjung meninggalkan tempat tinggal mereka yang dulu .

Tahun berganti,kini si Ut-Ut telah menjadi seorang ayah dari anaknya yang lucu. Ut-Ut hidup bahagia bersama kelompoknya diatas bukit yang kini mereka huni.
Hikmah Cerita:

* Bila ada bahaya besar terlihat di depan mata kita,segeralah menghindar dari bahaya tersebut,bukannya sok jagoan menantang bahaya besar tersebut (kisah si Oetan)

* Tak ada yang abadi di dunia ini! Kebahagiaan,kejayaan,kenangan indah bisa hilang dalam sekejap. Jangan larut terus dalam kesedihan bila melihat semua kejayaan kita hilang. Bila terus larut dalam kesedihan,niscaya kita akan menjadi orang yang terkungkung dalam kesedihan itu (kisah si Tan-Tan)

* Tetap berusaha dan percaya kepada TUHAN disaat kita mengalami kesulitan hidup. Niscaya TUHAN akan memberi jalan terbaik bagi hidupmu (kisah Ut-Ut)

Selasa, 17 Juli 2012

Kisah Cinta Seorang Jutawan yang Mengharukan

Halo teman teman semua :)

sekarang saya baru update berita ini :D

nah sekarang saya akan menceritakan kisah cinta yang mengharukan :D



Eko Pratomo Suyatno, siapa yang tidak kenal lelaki bersahaja ini? Namanya sering muncul di koran, televisi, di buku-buku investasi dan keuangan. Dialah salah seorang dibalik kemajuan industri reksadana di Indonesia dan juga seorang pemimpin dari sebuah perusahaan investasi reksadana besar di negeri ini.

Dalam posisinya seperti sekarang ini, boleh jadi kita beranggapan bahwa pria ini pasti super sibuk dengan segudang jadwal padat. Tapi dalam note ini saya tidak akan menyoroti kesuksesan beliau sebagai eksekutif. Namun ada sisi kesehariannya yang luar biasa!!!!

Usianya sudah tidak muda lagi, 60 tahun. Orang bilang sudah senja bahkan sudah mendekati malam, tapi Pak Suyatno masih bersemangat merawat istrinya yang sedang sakit. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun. Dikaruniai 4 orang anak.

Dari isinilah awal cobaan itu menerpa, saat istrinya melahirkan anak yang ke empat. tiba-tiba kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan. Hal itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang, lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi.

Setiap hari sebelum berangkat kerja Pak Suyatno sendirian memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi dan mengangkat istrinya ke tempat tidur. Dia letakkan istrinya di depan TV agar istrinya tidak merasa kesepian. Walau istrinya sudah tidak dapat bicara tapi selalu terlihat senyum. Untunglah tempat berkantor Pak Suyatno tidak terlalu jauh dari kediamannya, sehingga siang hari dapat pulang untuk menyuapi istrinya makan siang.
Sorenya adalah jadwal memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa saja yg dia alami seharian. Walaupun istrinya hanya bisa menanggapi lewat tatapan matanya, namun begitu bagi Pak Suyatno sudah cukup menyenangkan. Bahkan terkadang diselingi dengan menggoda istrinya setiap berangkat tidur. Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun. Dengan penuh kesabaran dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke 4 buah hati mereka. Sekarang anak- anak mereka sudah dewasa, tinggal si bungsu yg masih kuliah.

Pada suatu hari…saat seluruh anaknya berkumpul di rumah menjenguk ibunya-- karena setelah anak-anak mereka menikah dan tinggal bersama keluarga masing-masing- - Pak Suyatno memutuskan dirinyalah yang merawat ibu mereka karena yang dia inginkan hanya satu 'agar semua anaknya dapat berhasil'.

Dengan kalimat yang cukup hati-hati, anak yang sulung berkata:
“Pak kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak……bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu." Sambil air mata si sulung berlinang.

"Sudah keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi,
kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak,
dengan berkorban seperti ini, kami sudah tidak tega melihat bapak,
kami janji akan merawat ibu sebaik-baik secara bergantian”.
Si Sulung melanjutkan permohonannya.

”Anak-anakku. ..Jikalau perkawinan dan hidup di dunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah lagi, tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian di sampingku itu sudah lebih dari cukup,dia telah melahirkan kalian….*sejenak kerongkongannya tersekat*… kalian yang selalu kurindukan hadir di dunia ini dengan penuh cinta yang tidak satupun dapat dihargai dengan apapun. Coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaanya seperti ini ?? Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya seperti sekarang, kalian menginginkan bapak yang masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yang masih sakit." Pak Suyatno menjawab hal yang sama sekali tidak diduga anak-anaknya.

Sejenak meledaklah tangis anak-anak Pak Suyatno, merekapun melihat butiran-butiran kecil jatuh di pelupuk mata Ibu Suyatno..dengan pilu ditatapnya mata suami yang sangat dicintainya itu.

Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada Pak Suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yg sudah tidak bisa apa-apa....disaat itulah meledak tangisnya dengan tamu yang hadir di studio kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru.

Disitulah Pak Suyatno bercerita : “Jika manusia di dunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkimpoiannya, tetapi tidak mau memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian itu adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 anak yang lucu-lucu..Sekarang saat dia sakit karena berkorban untuk cinta kami bersama… dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit...” Sambil menangis.

"Setiap malam saya bersujud dan menangis dan saya hanya dapat bercerita kepada Allah di atas sajadah..dan saya yakin hanya kepada Allah saya percaya untuk menyimpan dan mendengar rahasia saya...BAHWA CINTA SAYA KEPADA ISTRI, SAYA SERAHKAN SEPENUHNYA KEPADA ALLAH".



Senin, 30 Januari 2012

The Faith of a Child

The Faith of a Child

Sally was only eight years old when she heard Mommy and Daddy talking about her little brother, Georgi. He was very sick and they had done everything they could afford to save his life. Only a very expensive surgery could help him now . . . and that was out of the financial question. She heard Daddy say it with a whispered desperation, "Only a miracle can save him now."

Sally went to her bedroom and pulled her piggy bank from its hiding place in the closet. She shook all the change out on the floor and counted it carefully. Three times. The total had to be exactly perfect. No chance here for mistakes. Tying the coins up in a cold-weather-kerchief, she slipped out of the apartment and made her way to the corner drug store.

She waited patiently for the pharmacist to give her attention. . . but he was too busy talking to another man to be bothered by an eight-year-old. Sally twisted her feet to make a scuffing noise. She cleared her throat. No good. Finally she took a quarter from its hiding place and banged it on the glass counter. That did it!

"And what do you want?" the pharmacist asked in an annoyed tone of voice.

"Well, I want to talk to you about my brother," Sally answered back in the same annoyed tone. "He's sick . . . and I want to buy a miracle."

"I beg your pardon," said the pharmacist.

"My Daddy says only a miracle can save him now . . . so how much does a miracle cost?"

"We don't sell miracles here, little girl. I can't help you."

"Listen, I have the money to pay for it. Just tell me how much it costs."

The well-dressed man stooped down and asked, "What kind of a miracle does you brother need?"

"I don't know," Sally answered. A tear started down her cheek. "I just know he's really sick and Mommy says he needs an operation. But my folks can't pay for it . . . so I have my money.

"How much do you have?" asked the well-dressed man.

"A dollar and eleven cents," Sally answered proudly. "And it's all the money I have in the world."

"Well, what a coincidence," smiled the well-dressed man. A dollar and eleven cents . . . the exact price of a miracle to save a little brother. He took her money in one hand and with the other hand he grasped her mitten and said "Take me to where you live. I want to see your brother and meet your parents."

That well-dressed man was Dr. Carlton Armstrong, renowned surgeon, specializing in solving Georgi's malady. The operation was completed without charge and it wasn't long until Georgi was home again and doing well. Mommy and Daddy were happily talking about the chain of events that had led them to this place.

"That surgery," Mommy whispered. "It's like a miracle. I wonder how much it would have cost?

Sally smiled to herself. She knew exactly how much a miracle cost... one dollar and eleven cents... plus the faith of a little child



Bahasa Indonesia

Iman Seorang Anak

Sally baru berumur delapan tahun ketika dia mendengar ayah dan ibu berbicara tentang adiknya, Georgi. Dia sangat sakit dan mereka telah melakukan segala sesuatu yang mereka mampu untuk menyelamatkan hidupnya. Hanya operasi yang sangat mahal bisa membantunya sekarang. . . dan itu keluar dari pertanyaan keuangan. Dia mendengar Ayah mengatakan itu dengan putus asa berbisik, "Hanya keajaiban yang bisa menyelamatkannya sekarang."

Sally pergi ke kamarnya dan menariknya celengan dari tempat persembunyiannya di dalam lemari. Dia mengguncang semua perubahan tersebut ke lantai dan menghitungnya dengan hati-hati. Tiga kali. Total harus persis sempurna. Tidak ada kesempatan di sini untuk kesalahan. Mengikat koin-koin di sebuah saputangan dingin cuaca, ia menyelinap keluar dari apartemen dan berjalan ke toko obat di sudut.

Ia menunggu dengan sabar sampai sang apoteker memberi perhatian padanya. . . tapi dia terlalu sibuk berbicara dengan orang lain untuk diganggu oleh delapan tahun. Sally memutar kakinya untuk membuat bunyi scuffing. Dia berdeham. Tidak baik. Akhirnya dia mengambil uang koin dari tempat persembunyiannya dan melemparkannya ke kaca etalase. Itu berhasil!

"Dan apa yang Anda inginkan?" tanya apoteker tersebut dengan suara marah.

"Yah, aku ingin berbicara dengan Anda tentang kakakku," jawab Sally kembali dalam nada jengkel sama. "Dia sakit... Dan saya ingin membeli keajaiban."

"Saya mohon maaf," kata apoteker.

"Ayah saya mengatakan hanya keajaiban yang bisa menyelamatkannya sekarang... Jadi berapa harga keajaiban itu?"

"Kami tidak menjual keajaiban, gadis kecil saya tidak dapat membantu Anda.."

"Dengar, aku punya uang untuk membayar untuk itu Katakan saja berapa banyak biaya.."

Pria berpakaian rapi membungkuk dan bertanya, "Keajaiban jenis apa yang tidak Anda saudara butuhkan?"

"Saya tidak tahu," jawab Sally. Air mata mulai menetes di pipinya. "Saya hanya tahu dia sakit parah dan mama mengatakan bahwa ia membutuhkan operasi Tapi orang saya tidak bisa membayar untuk itu.... Jadi saya punya uang saya.

"Berapa banyak yang Anda miliki?" tanya pria berpakaian rapi.

"Satu dollar dan sebelas sen," jawab Sally dengan bangga. "Dan itu semua uang yang saya miliki di dunia."

"Nah, kebetulan sekali," senyum pria berpakaian rapi. Satu dolar dan sebelas sen. . .harga yang tepat dari keajaiban untuk menyimpan adik. Dia mengambil uangnya di satu tangan dan dengan tangan yang lain ia menggenggam sarung tangan dan berkata "Bawa aku ke tempat Anda tinggal. Aku ingin melihat adikmu dan bertemu orang tua Anda."

Orang itu berpakaian rapi adalah Dr Carlton Armstrong, ahli bedah terkenal, yang mengkhususkan diri dalam memecahkan penyakit Georgi itu. Operasi dilakukannya tanpa biaya dan tidak lama sebelum Georgi dapat kembali ke rumah dan melakukan dengan baik. Mommy dan Daddy sangat bahagia berbicara tentang rantai peristiwa yang telah memimpin mereka ke tempat ini.

"Operasi itu," bisik Mama. "Ini seperti sebuah keajaiban aku bertanya-tanya berapa banyak itu akan biaya.?

Sally tersenyum sendiri. Dia tahu secara pasti berapa harga keajaiban ... satu dolar dan sebelas sen ... ditambah iman seorang anak kecil


© Kang Dadang 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis